KODE ETIK PECINTA ALAM & INTERPRESTASINYA
KODE ETIK PECINTA
ALAM
PECINTA ALAM SADAR BAHWA ALAM BESERTA ISINYA
ADALAH CIPTAAN TUHAN YANG MAHA ESA.
PECINTA ALAM INDONESIA ADALAH SEBAGAI BAGIAN
DARI MASYARAKAT INDONESIA SADAR AKAN TANGGUNG JAWAB KEPADA TUHAN, BANGSA DAN
TANAH AIR.
PECINTA ALAM
INDONESIA SADAR BAHWA PECINTA ALAM ADALAH MAHLUK YANG MENCINTAI ALAM SEBAGAI
ANUGERAH TUHAN YANG MAHA ESA.
Sesuai dengan hakekat diatas,
dengan kesadaran maka kami menyatakan
1.
Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
2.
Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam beserta
kebutuhannya
3.
Mengabdi kepada bangsa dan tanah
air
4.
Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitarmya,serta menghargai manusia dengan kerabatnya.
5.
Berusaha mempererat tali persaudaraan antar sesame Pecinta Alam sesuai asas pecinta
alam.
6.
Berusaha saling membantu serta saling menghargai dalam melaksanakanpengabdian terhadap Tuhan,
Bangsah Dan Tanah Air.
7.
Selesai
Disahkan Bersama Dalam Gladian Ke
–IV
Di Ujung Pandang 1974
PIAGAM KESEPAKATAN
PECINTA ALAM SE-
SULAWESI SELATAN
Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, setelah
berlangsung sarahsehan Pecinta Alam di Universitas 45 (22‑06‑1996) dengan Tema
“Eksistensi Pecinta Penyatuan Visi Misi serta Problematikanya” disertai
pandangan umum Pecinta Alam Sulawesi Selatan yang membuahkan hasil
kesepakatan piagam yang berlaku untuk Pecinta Alam Sulawesi Selatan.
Tekad ini dilahirkan serta meninjau beberapa
problematic Pecinta Alam Sulawesi Selatan dengan bahan rujukan Kode Etik
Pecinta Alam Se‑indonesia Atas pertimbangan tersebut maka Pecinta Alam Sulawesi
Selatan sepakat menyatukan Visi dan Misi yang dirumuskan
dalam isi piagam kesepakatan sebagai berikut :
1. Bertaqwa Kepada Tuhan
Yang MahaEsa.
2. Setiap
Pecinta Alam Sulawesi Selatan menghayati dan mengamalkan nilai
”Kode Etik Pecinta Alam Se‑Indonesia” pada setiap
sendi‑sendi kehidupan Bangsa dan Negara.
3. Hormat
menghormati sesame Insan Ciptaan Tuhan pada umumnya, dan Pecinta Alam
pada Khususnya dengan dilandasi budaya yang ada di Sulawesi Selatan serta
menjaga kelestarian Alam dan isinya.
4. Senantiasa
bersikap Cerdas, Cermat, Berani, Ikhlas, Jujur, Ulet dan Rendah hati
dalam persamaan Hak dengan tidak memandang keturunan, Golongan,
Suku dan Agama.
5. Memelihara
serta menggunakan Potensi Alam dengan memperhatikan, melaksanakan dan
menaati segala ketentuan yang berlaku.
6. Setiap
Pecinta Alam adalah Inovatif, motivator, sekaligus mediator dalam menyatukan
konsep yang berwawasan lingkungan demi kepentingan umum.
7. Merealisasikan
Visi dan Misi Pecianta Alam Sulawesi Selatan sesuai dengan hakekat dan
martabatnya.
8. Selesai
Demikian Piagam Kesepakatan ini dibuat dan
disahkan Pecinta Alam Sulawesi Selatan semoga Tuhan Yang Maha Esa melindungi
dan memberkati kita semua.
Ditetapkan
: Pada Sarasehan Pecinta Alam Sulawesi-Selatan
Tanggal :
06 Juli 1996
Waktu
: 23 : 05 Wita
Tempat
: Auditorium Al-Jibra Kampus II Universitas Muslim
Indonesia
INTERPRESTASI.
a)
Mengabdi kepada Tuhan Yang
Maha Esa.
Tidak
lain dan tidak bukan, tujuan hidup kita dimuka bumi ini adalah dalam konsep
untuk senantiasa mengabdi pada Allah, selaku hamba-hamba-Nya yang tunduk dan patuh
pada hukum-hukum-Nya, atau sunatullah.
Pengabdian
yang dilakukan atas dasar ketakwaan, dimana arti takwa bukan sebatas
menghindari apa-apa yang dilarang-Nya, serta mengikuti apa yang disuruh-Nya
semata, namun dalam pengertian yang lebih jauh lagi. Konsep pengabdian dalam
kerangka takwa adalah, untuk senantiasa menjaga dan memelihara hubungan
komunikasinya dengan Allah, karena hal itu merupakan pokok pijakannya yang
utama dari konsep keimanan dalam dirinya.
Manusia
dengan seluruh perangkat, peringkat serta predikat yang dimilikinya, hanya
bersifat entitas relatif didepan Tuhan, dan seringkali tak bernilai apa-apa,
kecuali manusia tadi mempunyai tingkat keimanan dan ketakwaan pada-Nya.
Entitas
mutlak didepan Tuhan dari seorang manusia adalah hanya derajat keimanan dan
ketakwaannya, dan kelak hal itu pula yang akan menentukan derajat sesungguhnya
seorang manusia didepan Tuhannya. Pengabdian dalam konteks ketakwaan, adalah
“menjaga” dan “memelihara” hubungan, dimana untuk menegakan tali hubungan tadi
dibutuhkan sejumlah sarana, termasuk sistem kesadaran, ilmu dan pengetahuan.
b)
Memelihara Alam beserta
isinya, serta menggunakan sumber sesuai dengan kebutuhan.
Manusia
diciptakan Tuhan dengan sebuah tujuan, yaitu menjadi khalifah dimuka bumi, dan
rencana ini sudah digariskan bahkan ketika Adam AS diciptakan dalam surga.
Sebagai bekal maka Adam AS diajarkan Allah berbagai hal mengenai alam semesta
ini, yang kemudian di test oleh para malaikat dan merekapun hormat atas
kemampuan Adam AS dalam menjawab berbagai pertanyaan para malaikat tadi. Adam
dan keturunannya adalah khalifah, yang artinya setiap manusia telah dibekali
Allah potensi yang sama seperti yang dimiliki oleh Adam ini, layaknya seorang
khalifah yang bijak, maka faktor menjaga amanah / titipan adalah sebagai
sesuatu yang harus diprioritaskan, yaitu menjaga dan memelihara alam semesta
beserta isinya ini.
Seperti
yang kita ketahui, manusia diciptakan oleh Allah dari saripati tanah, atau
menjadi anak-anak asuh dari bumi yang merupakan ibu susu mereka, yang
dibesarkan untuk menjadi putra-putra mahkota kekhalifahan di alam semesta ini.
Bumi adalah ibu yang jujur dan sabar, yang mengajari anak-anak susunya untuk
belajar mandiri, seraya menerima energinya untuk meningkatkan kekuatan,
kepandaian, kecerdasan, dan kebijakan kesadarannya.
Seperti
ibu kandung kita sendiri yang dengan sabar menyusui anak-anaknya, beliau tidak
mengeluh ketika air susunya dihisap oleh bayinya, karena beliau tahu, betapa
fungsi ASI selain memberikan kehidupan juga kesehatan dan kesejahteraan hidup
dimasa yang akan datang. Layaknya seorang bayi pula, dia akan menghisap sebatas
“secukupnya” yaitu ketika perutnya sudah kenyang maka diapun berhenti
menghisap, sekalipun mungkin ASI ibu masih banyak, namun seorang bayi tahu
sampai dimana tingkat kebutuhannya, dan dia hanya mengambil sebatas
kebutuhannya tersebut tidak kurang dan tidak lebih.
c)
Menghormati tata kehidupan
yang berlaku pada masyarakat sekitarnya serta menghargai manusia dengan kerabatnya.
Diantara sejumlah anugerah yang
diberikan Allah pada kita adalah hidup, akal dan agama, dan kewajiban manusia
untuk senantiasa menghargai serta mempertahankan anugerah tadi, sekaligus
sebagai tanda syukur nikmat manusia kepada Tuhannya. Kehidupan adalah anugerah,
dan bahkan Tuhanpun siap dengan anomali atau penyimpangan dari hukumnya
(sunatullah), demi untuk mempertahankan kehidupan mahluk-Nya ini.
Pernahkah terpikirkan, bahwa
setiap materi ketika dibekukan maka dia akan lebih berat dibandingkan dengan
zat sebelumnya ?. Zat yang membeku, baik yang asalnya gas maupun cairan, ketika
membeku dan mengeras menjadi padat, maka dia akan lebih berat dari saat dia
pada kondisi gas atau cairan, kecuali air !.
Air
adalah anomali atau penyimpangan dari hukum tadi, karena air ketika dibekukan
menjadi es, justru menjadi lebih ringan sehingga mengambang diatas permukaan
air. Mampukah kita bayangkan, jika Tuhan memberlakukan hukum yang sama terhadap
air, yaitu es tenggelam dalam air, dan akibatnya niscaya seluruh kehidupan
bawah laut di kutub-kutub bumi pada saat musim dingin akan mati dan punah,
karena tergencet oleh balok es yang tenggelam sampai kedasar.
d)
Mengabdi pada Bangsa dan
Tanah-Air.
Dimana bumi dipijak disana
langit kita junjung, menyiratkan loyalitas sekaligus rasa syukur terhadap
sebuah fondamen ideologis yang selama ini telah mendukung bangunan ujud
integritas diri kita sendiri sebagai seorang anak bangsa ini. Bangsa dan tanah
air menggambarkan suatu bentuk hubungan primordial antara manusia dengan bumi
yang dipijaknya, dan langit yang dijunjungnya, atau dalam konteks sebuah
kawasan dimana kita berada, serta konsep kebangsaan dimana aspek wawasan
ditanamkan.
Dengan menghilangkan konsep
kebangsaan dan tanah airnya, maka kita akan kehilangan identitas diri sebagai
sebuah pelaku sejarah dalam derap peradaban yang dibangun oleh umat manusia.
Pada
saat yang sama, kita juga akan mengalami degradasi integritas diri, dimana
bangunan kesadaran kita pada sejarah primordial kita, hanya tinggal reruntuhan
puing-puing memori, yang kadang tanpa makna atau cuma meninggalkan sepercik
arti saja.
Mengabdi
pada bangsa dan tanah air adalah sebuah manifestasi bahwa kita mempunyai akar
sejarah, mempunyai jangkar yang cukup dalam terbenam dalam lautan peradaban dan
budaya manusia, dimana kehilangan hal itu akan membuat kita menjadi gamang
karena kehilangan ciri dan arti diri, seraya diombang-ambing dan dihempaskan
oleh badai tantangan jamannya. Mengabdi pada bangsa dan tanah air, bukan hanya
dipandang bagi kepentingan bangsa dan tanah air itu sendiri, namun secara
hakikat adalah kita tengah mengabdi pada diri sendiri, karena bangsa itu adalah
diri kita dan tanah air itu adalah saripati tanah, dimana asal ujud kita
diciptakan. Menghianati bangsa dan tanah air, adalah berkhianat pada diri kita
sendiri, yang secara perlahan dari bawah sadar muncul kekuatan negatip bagaikan
monster yang mengancam, yaitu benci diri.
Benci diri adalah sumber
penyakit manusia yang utama, sementara cinta diri adalah sumber kekuatan atau
vitalitas diri, dimana menghargai dan mencintai diri sendiri akan menumbuhkan
pemahaman tentang daya tarik diri, yang akan berujung pada adanya konsep harga
diri.
Harga diri selaku individu jika
dipelebar kedalam skala kelompok besar adalah kehormatan bangsa, atau kebanggaan
atas bangsanya, lengkap dengan sejarah masa lampaunya, serta cita-cita
kebangsaannya yang akan dijelmakan pada masa yang akan datang.
Bentuk
pengabdian pada kelompok adalah juga pengabdian pada dirinya sendiri selaku
anggota kelompok, sehingga manfaat secara kolektif maupun individual, secara
langsung akan terasa. Pengabdian juga merupakan bentuk rasa syukur kita pada
Sang Pencipta, dimana dengan adanya entitas primordial kita itu, maka kita
tidak akan hilang tergerus oleh gemuruhnya peradaban global.
e)
Berusaha memperkuat tali
persaudaraan antar Pecinta Alam, dengan azas Pecinta Alam.
Hawa
atau dorongan kecenderungan dari nafsu manusiawi adalah membuat jarak, atau
adanya ruang pemisah antara dirinya dengan apapun disekitarnya. Nafsu membuat
ruang, semata-mata demi kebutuhan sang nafsu untuk menujuk dirinya sendiri
secara jujur, seraya menetapkan dirinya sebagai entitas mandiri dalam proses
individualisasi.
Namun
“hawa” nafsu justru membuat jarak dalam ruang tadi, sehingga pemisahan,
keterpisahan (separateness) dan parsialisasi merupakan konsekwensi logis yang
terjadi akibat adanya jarak tadi. Nafsu menolak rasa sakit dan mencari
kesenangan semata, sekalipun cuma untuk kesenangan sesaat saja, dan
bertanggung-jawab adalah sakit dan sama sekali tak menyenangkan, sehingga
cenderung untuk ditolak.
Untuk
menghilangkan tanggung-jawab atas dirinya, maka dia memecah dirinya sendiri,
seraya pecahan-pecahan dari dirinya tadi dia serahkan pada pihak-pihak lain
untuk dipertanggung-jawabkan.
Kesehatan
adalah tanggung jawab dokter, kejiwaan adalah tanggung jawab psikolog, moralnya
adalah tanggung jawab ustad atau pendeta, intelektualnya adalah tanggung jawag
guru atau dosen, dan semua bagian dirinya dibagikan. Akhirnya dia samasekali
tidak menyisakan sepotongpun bagian dari dirinya sendiri, dan oleh karenanya
dia merasa sah untuk berpendapat bahwa dia tidak bertanggung jawab atas dirinya
sendiri, karena tanggung jawab yang menyakitkan itu, sudah habis dibagikan pada
pihak lain.
Dia bahkan tidak memiliki dirinya
sendiri, karena dengan dirinya sendiripun sudah terbentang sebuah jarak.
Serpihan dirinya yang dimiliki pihak lain, membuat dia melepaskan
tanggung-jawab atas dirinya, dan itu membuat nafsunya terbebaskan dari rasa
bertanggung-jawab yang menyakitkan.
Namun ketika dia tidak lagi
memiliki dirinya sendiri, bahkan justru jarak-jarak yang tercipta, perlahan
namun pasti menimbulkan bentuk kesakitan baru, yaitu dia merasa diasingkan,
terasingkan, bahkan asing pada dirinya sendiri, yang tidak pernah dimilikinya. Padahal
pada awal manusia hidup, maupun kelak saat menjemput kematian, kita lahir
sendiri dan matipun akan sendiri pula, tanpa kawan dan sanak saudara, seolah
kita menjadi terasingkan.
Pelajaran manusia akan
keterasingan ini, seharusnya membuat mereka justru untuk lebih memahami konsep
kebersamaan, karena fakta bahwa penyakit manusia yang utama muncul saat manusia
merasa diasingkan (alienasi) oleh lingkungannya, bahkan oleh dirinya sendiri.
Kebersamaan adalah jalan positip
menuju kesehatan jiwa dan kepribadian kita, dan proses awalnya dimulai dengan
tidak memecah diri dan mengasingkannya, namun justru mengumpulkan semua pecahan
tadi, menyatukannya dalam konsep ujud diri yang utuh, dan mencoba untuk belajar
bertanggung jawab atas dirinya oleh dirinya sendiri.
Kita
yang mengambil tampuk kemudi atas diri kita sendiri, dan diri kita adalah
sesuatu yang utuh tidak terpisah-pisah, yang mempunyai identitas dan integritas
diri. Manakala ujud diri yang utuh sudah terbentuk, dan kita secara sadar tidak
lagi membagi diri, dan membuat jarak dengan diri sendiri, bahkan dengan berani
mengambil tanggung-jawab atas keseluruhan diri kita, maka dimulailah suatu
proses sadar, untuk menghilangkan jarak dengan sesuatu yang lain, diluar diri
kita.
Sesuatu
yang lain itu yang pertama-tama adalah saudara kita sesama Pecinta Alam, dimana
kita disatukan antara satu dan yang lainnya oleh ikatan kesadaran kolektif yang
sama, yaitu kecintaan terhadap alam yang kita tinggali ini, dan rasa kasih
sayang pada bumi, ibu susu kita sendiri. Kesadaran kolektif yang sama, juga
akan menumbuhkan benih rasa sayang, yang tergambarkan dalam ikatan persaudaraan
secara tulus, iklas, dan yang pasti adalah bersifat alamiah, tanpa usah dengan
tambahan polesan artifisial yang seringkali menipu.
Persaudaraan yang dibangun dalam
wacana kegiatan di alam terbuka umumnya jauh lebih alamiah, sehingga tidak
heran jika diantara sesama Pecinta Alam dengan cepat tumbuh keakraban dan
kehangatan yang jarang dimiliki oleh persaudaraan antar kelompok yang lain.
Seringkali persaudaraan ini
sedemikian kental, sehingga ketika salah seorang Pecinta Alam tersesat
digunung, maka dengan serempak para Pecinta Alam berdatangan dari segenap
penjuru belahan tanah air untuk ikut membantu mencari rekannya.
Seorang rekan yang bukan saudara,
bahkan tidak dikenalnya secara pribadi, namun ketika mereka adalah sesama
Pecinta Alam, maka untuk menemukan dan menyelamatkan hidup mereka yang hilang,
maka keamanan diripun dipertaruhkan dengan iklas.
Betapa banyak operasi SAR yang
memakan tenaga beratus orang Pecinta Alam selama berhari-hari,
berminggu-minggu, bahkan kadang lebih dari sebulan, mereka tinggal di base-camp
atau pada team-team flying-camp dipelosok rimba, dengan tujuan semata menemukan
korban secepatnya, agar jiwa mereka tertolong.
SAR
( Search and Rescue) adalah pengejawantahan dari rasa persaudaraan tadi, yang
tidak dimiliki oleh kelompok lainnya, sehingga jiwa militan mereka sudah
terlatih dan teruji dengan sendirinya, dan semuanya dikemas dalam sebuah konsep
persaudaraan diantara sesama pecinta alam serta kerabat manusia yang lainnya.
f)
Berusaha saling membantu
serta saling menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan
Tanah-Air.
Pengabdian
adalah muara dari aliran sungai kepecinta-alaman, yang akhirnya akan terjun
lepas pada samudera kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan tujuan untuk
memberikan manfaat yang sebesar-besarnya, baik pada lingkungan terkecil
keluarga, maupun sampai dengan yang terbesar, yaitu skala ummat manusia.
Pengabdian
yang paling utama adalah pada Tuhan, yang sepenuhnya didasari oleh rasa cinta
yang tulus dan iklas, dan dengan basis cinta Tuhan tadi maka dibangun pula
cinta bangsa serta cinta negara.
Rasa cinta yang bersifat idealistik
abstrak memerlukan implementasi yang terkuantifikasi secara jelas, dan untuk
itu diturunkan kedalam bentuk pengabdian, yaitu berupa program-program
aplikatif yang relevan dengan dunia kepecinta-alaman. Adalah hal yang wajar
jika setiap individu atau setiap kelompok Pecinta Alam di tanah air mempunyai
obsesi atau keinginan untuk mengabdi pada agama, bangsa dan negaranya.
Sementara bentuk program
pengabdian itu seringkali diwarnai oleh latar belakang kelompok itu sendiri,
sehingga seringkali secara teknis bersifat sangat sektoral.
Pecinta alam dengan aneka ragam
latar belakang kelompok, jenis pendidikan, sektor penguasaan, dll., membuat
pengayaan program-program ini, dimulai dari peduli bencana alam, penghijauan
lahan gundul, operasi SAR dan operasi kemanusiaan lain, pembuatan desa binaan,
penelitian ilmiah dari berbagai sudut pandang dan disiplin keilmuan atas suatu
wilayah, dll.
Semuanya adalah semata demi
pengabdian pada tanah air yang dicintainya, yang sejak awal telah menjadi
doktrin pokoknya, dan merupakan sumber inspirasional dari sikap militan serta
energi vitalitas yang dikandungnya.
Namun
demikian, seringkali juga kita mendapatkan fakta, antara cita-cita dan
kemampuan tidaklah sebanding dihubungkan dengan sarana dan prasarana yang
tersedia, sehingga hanya dengan uluran tangan sesama rekan saja, maka
program-program tadi dapat dilaksanakan, dengan konsep saling membantu,
menambal kebocoran, memperkuat kelemahan, dan menyediakan hal-hal yang tidak
dapat diadakannya.
Kita
sepenuhnya sadar bahwa siapapun itu, baik individu maupun kelompok pasti
mempunyai sejumlah potensi kekuatan diri, namun juga mempunyai segi-segi
kelemahan serta keterbatasannya.
Rangkuman
dari Buku Intersection (Yayat Lessie)
Komentar
Posting Komentar