FILOSOFI GUNUNG
"Planning one’s life is like
planning a journey to conquer a mountain"
Hidup ini perlu tujuan, visi. Sama
seperti kalau kita hendak naik gunung; kita harus tahu dulu gunung apa yang
akan kita daki.
Jadi, entah ini apa, saya hanya ingin
berbagi mengenai pandangan saya dalam merencakan kehidupan (tidak berarti saya
sudah memiliki perencanaan yang matang ya) bukan berarti saya mengkuliahi, ini
hanya pandangan saya.
1.
TENTUKAN GUNUNG APA YANG AKAN DIDAKI.
Bagaimana kita bisa
mencapai sukses kalau kita bahkan tidak tau apa itu sukses untuk kita?
Bagaimana kita bisa mencapai puncak kalau kita bahkan tidak tahu gunung apa
yang akan kita daki? Know your passion. Dan khusus untuk hal ini, hanya kita
sendiri yang tahu apa passion kita. Orang lain hanya dapat memberikan saran
berdasarkan pandangan subjektif mereka. Beberapa bilang “ngapain lo ke Everest?
Mendingan juga ke Aconcagua! Ga banyak orang pernah ke sana!”; “Ngapain lo ke
Burangrang? Mending ke Gede-Pangrango sekalian!” Sekali lagi: hanya kita yang
bisa menjawab ini.
2.
KENALI GUNUNGNYA.
Anda yakin gunung
itu lah yang ingin Anda taklukkan? Tidak salah informasi? Anda yakin Everest
berada di Nepal bukan dataran tinggi Tibet di China? Anda yakin Gunung Ciremai
adalah benar yang paling tinggi di Jawa Barat? Anda yakin Gunung Jaya Wijaya
berada di Provinsi Papua bukan Papua Barat? Anda yakin seorang pengusaha cukup
mengerti soal finance? Anda yakin bahwa PNS itu hidupnya pasti miskin? Just
make sure that the information you’ve gathered is right. Or You’ll end up
chasing a wrong bus.
3.
KETAHUI DI MANA ANDA SEKARANG.
Jangan mengejar
tanpa persiapan; Ketahui dulu batasan diri sendiri. Jangan berjalan ke utara
kalau gunungnya ternyata di selatan. Jangan bekerja di bidang desain interior
kalau memang Anda ingin menjadi ahli nuklir (saya hanya mengasumsikan nuklir
dan interior tidak ada hubungannya sama sekali untuk mempermudah penjelasan).
4.
SUDAH PUNYA PETA?
Kalau Anda sudah
pernah ke gunung itu dan Anda memulai dari titik yang sama dengan perjalanan
yang sebelumnya, mungkin jalan yang akan ditempuh belum banyak berubah. Tapi
sudah rule of thumb bahwa kalau kita naik gunung ya kita harus punya petanya,
untuk mengetahui kondisi geografis, menentukan rute, dll. Hidup ini cuma
sekali. Mustahil kita mencapai tujuan yang sama dua kali mengingat bahwa hidup
ini jalan terus dan tidak pernah berputar kembali. Sudah pasti tujuan Anda itu
belum pernah Anda kunjungi. Anda mau jadi pengusaha lele tapi tidak tau siapa
saja stakeholders di bidang usaha lele? Anda mau membangun parpol tapi belum
tahu parpol apa saja yang sudah ada?
5.
PICK A ROUTE.
Gunung Tangkuban
Perahu yang terkenal di Jawa Barat saja menyediakan banyak jalur agar
pengunjung bisa melihat kawahnya meskipun mereka memulai dari titik yang
berbeda. Pengunjung tinggal memilih jalur yang paling cocok dengan keadaan
mereka. Menjadi Presiden Republik Indonesia pun bisa diawali dari kuliah di
bidang teknik sipil, atau dengan menjadi tentara, atau dengan kuliah di teknik penerbangan,
atau dengan menjadi seorang tokoh Islam, dll. Walaupun rute mereka berbeda,
dengan kemampuan yang memang di atas rata-rata, para mantan Presiden Republik
Indonesia memiliki latar belakang yang berbeda-beda.
6.
PACKING.
Kalau memang ingin
jadi chef, mungkin lebih baik kalau di rumah punya dapur. Kalau memang ingin
jadi gitaris, akan lebih baik kalau di rumah punya gitar. Kalau ingin ke
Agropuro, akan lebih baik kalau sudah bawa tenda dan perbekalan. Kalau mau ke
Burangrang dari Bandung, bawa air minum satu liter saja cukup. Ya, jangan cuma
berani naik gunung bermodalkan semangat, jangan lupa belajar dan mengepak bekal
barang-barang yang akan berguna.
7.
JALAN!
Dan semua yang sudah
kita rencanakan tidak akan ada hasilnya kalau tidak kita kerjakan.Ngomong-ngomong,
kalau memang masih tidak tahu juga gunung apa yang ingin Anda daki, keep
walking. Mungkin sambil jalan Anda akan menemukan sebuah gunung cantik yang
menggugah hati, daripada Anda diam di kamar merenung menetukan gunung dan
lama-lama Anda mati.
Ada kalanya ketika
mendaki gunung, puncak dari gunung tersebut tidak dapat terlihat. Seringkali
kita di kala puncak tidak terlihat, lalu kita disibukkan dengan kendala yang
ada di hadapan kita, kita malah lupa dengan gunung apa yang sedang kita daki.
Saat berjalan, fokus kita hanya pada 3 hal:
a.
Gunung.
Jangan lupa dengan
gunung yang sedang kita daki. Jangan lupa dengan cita-cita yang sedang kita
coba raih. Sesulit apapun jalan yang kita tempuh, STICK TO THE PLAN!
b.
Rute
Ingat-ingat rute
yang sedang ditempuh, jangan sampai salah jalan dan membawa kita makin jauh
dari tujuan. Jangan karena iming-iming uang banyak, wanita cantik, atau mobil
mewah, kita jadi merelakan passion kita dan membawa kita jauh dari tujuan. Tapi
ingat juga: Nabi Muhammad SAW menghidari Makkah dahulu dan berhijrah ke Madinah
agar beliau dapat menghimpun kekuatan untuk tetap mengsyiarkan Islam. Rute
boleh berubah, tapi tidak dengan tujuan.
c.
Keadaan sekitar.
Perjalanan seribu
mil dimulai dengan satu langkah pertama. Ya, yang membawa kita ke gunung itu
adalah setiap langkah kita. Dan setiap langkah kita harus memperhatikan keadaan
sekitar. Jangan melangkah dengan polos kalau di depan ada harimau. Jangan
melangkah dengan tegap kalau di depan jurang. Jangan hanya memikirkan puncak, karena
apa yang kita hadapi sehari-hari adalah keadaan sekitar.
Ya, mungkin itu
adalah sedikit pikiran saya mengenai cara membuat rencana dalam hidup. Bukan
bermaksud mengkuliahi, saya hanya ingin berbagi pandangan saya mengenai
perencanaan kehidupan. Saya sendiri, merujuk pada tulisan saya di atas, saya
masih belum mengenal tujuan saya dengan baik. Saya belum tahu rute yang ingin
saya ambil. Sejauh ini saya masih berjalan mengikuti arus.
Sekali lagi, tulisan ini hanya untuk
berbagi pandangan. Terima kasih sudah membaca, semoga berguna
Komentar
Posting Komentar